Seminar tersebut menjadi forum strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, organisasi profesi, hingga masyarakat umum, dalam rangka merumuskan langkah bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di Kota Bekasi.
Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Abdul Harris Bobihoe menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan pendidikan bermutu yang inklusif dan berkeadilan bagi seluruh peserta didik.
“Seminar ini membuka ruang seluas-luasnya untuk kita bersama-sama mewujudkan pendidikan bermutu, melalui kolaborasi dari semua pihak. Pendidikan yang berkualitas harus dapat dirasakan oleh seluruh peserta didik tanpa membedakan latar belakang apa pun, karena setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak,” ujar Harris Bobihoe.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali semangat pendidikan nasional yang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama. Menurutnya, hakikat pendidikan adalah proses tulus dalam memanusiakan manusia.
Lebih lanjut, Harris menekankan bahwa guru memiliki peran sentral sebagai pilar utama dalam pembentukan sumber daya manusia unggul. Ia menyebut, tidak ada negara maju tanpa didukung oleh tenaga pendidik yang profesional, berkarakter, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, dan kompetisi global menuntut sistem pendidikan untuk terus berinovasi. Dalam konteks ini, guru memegang peran strategis sebagai pengarah, pendamping, sekaligus penggerak perubahan,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan berbagai kebijakan dan program pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru di lapangan.
“Tanpa guru yang berkualitas, pembaruan kurikulum dan program pendidikan tidak akan berjalan optimal. Guru adalah penghubung antara kebijakan pendidikan dan proses pembelajaran di ruang kelas,” tegasnya.
Menurutnya, peningkatan mutu guru bukan hanya menjadi tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen. Pemerintah, organisasi profesi seperti PGRI, pihak sekolah, orang tua, hingga masyarakat luas perlu bersinergi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif.
Hal tersebut dapat diwujudkan melalui berbagai langkah konkret, seperti penyediaan pelatihan profesional yang berkelanjutan, peningkatan kesejahteraan dan kondisi kerja guru, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, serta penciptaan lingkungan yang mendorong inovasi dan kreativitas.
Harris optimistis, apabila seluruh pihak bergerak dalam satu visi yang sama untuk memperkuat kualitas tenaga pendidik, maka kemajuan pendidikan Indonesia akan semakin cepat dan terarah.
“Ketika semua pihak bersatu memperkuat mutu guru, maka kita sedang menyiapkan fondasi kuat menuju Indonesia Emas 2045,” pungkasnya. (Red)









