Direktur Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri, menegaskan bahwa Calendar of Event tidak sekadar menjadi daftar agenda tahunan, melainkan sebuah sistem kurasi strategis yang mampu mengorkestrasi berbagai event lintas sektor secara berkelanjutan.
“Calendar of Event itu bukan hanya list kegiatan, tapi strategi pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif, sekaligus instrumen city branding. Semua event, baik seni budaya, MICE, maupun komunitas bisa terhubung dalam satu platform sepanjang tahun,” ujarnya.
Menurut Dinda, penerapan konsep CoE yang terintegrasi akan memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota festival di tingkat global, sekaligus meningkatkan daya tarik wisata berbasis event yang berkelanjutan.
Dalam paparannya, Dinda juga menawarkan model kurasi berlapis atau tiering system dalam pengelolaan event. Tier pertama merupakan flagship event berskala nasional hingga internasional. Tier kedua mencakup strategic events berskala nasional atau regional yang memiliki potensi besar dalam menarik wisatawan. Sementara tier ketiga adalah community events yang berbasis partisipasi warga dan komunitas lokal.
“Dengan sistem ini, kita bisa menentukan prioritas dukungan, sekaligus menjaga keberlanjutan dan kualitas event di Kota Yogya,” jelasnya.
Selain itu, CoE akan dilengkapi dengan pendekatan tematik bulanan seperti wellness, heritage, hingga creative season. Kalender ini juga akan dibagi dalam beberapa lapisan, yakni kalender publik, industri (MICE), dan investasi guna mengoptimalkan dampak ekonomi dari setiap kegiatan.
Dinda menyoroti bahwa saat ini ekosistem event di Yogyakarta masih berjalan secara terdesentralisasi dan belum terintegrasi dalam satu platform. Padahal, potensi festival di kota ini dinilai sangat besar. Ia membandingkan dengan kota Adelaide yang dikenal sebagai kota festival dengan sistem semi-terpusat dan koordinasi kuat, serta Singapura yang sangat selektif dan strategis dalam kurasi event dengan dukungan pendanaan besar.
“Yogyakarta ini emerging dan punya potensi tinggi. Tapi kita masih perlu penguatan integrasi, kurasi, dan koordinasi antar-stakeholder,” ungkapnya.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyambut baik pendekatan kreatif yang ditawarkan Komite Ekonomi Kreatif. Ia menilai pengembangan CoE tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan birokrasi semata.
“Kalau hanya menggunakan cara berpikir birokrasi, ini tidak akan sukses. Karena birokrasi itu kuat di akuntabilitas, tapi sering kurang di kreativitas,” kata Hasto.
Ia berharap Komite Ekonomi Kreatif mampu merancang konsep yang lebih dinamis dan inovatif, termasuk dalam mengklasifikasikan event serta menyusun kalender tematik tahunan yang menarik. Hasto juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, dengan pemerintah berperan sebagai fasilitator.
“Kita bertanya, apa yang bisa pemerintah berikan. Bukan sebaliknya. Sentuhan kecil tapi tepat itu justru lebih berarti,” ujarnya.
Pemkot Yogyakarta menargetkan konsep Calendar of Event terintegrasi mulai diformulasikan pada 2026, untuk kemudian diimplementasikan secara penuh pada 2027. Hasto menekankan pentingnya percepatan, terutama dalam aspek perencanaan anggaran dan penyediaan infrastruktur pendukung.
“Kita harus gerak cepat. Dari brainstorming langsung diformulasikan, supaya yang perlu dianggarkan bisa segera diusulkan,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengungkapkan sejumlah langkah strategis yang tengah disiapkan, di antaranya penguatan event melalui kolaborasi lintas dinas, pengembangan perayaan keagamaan sebagai simbol kota toleran, hingga pengemasan Nyadran Agung dan festival takbiran sebagai daya tarik wisata unggulan.
“Kita ingin event-event ini tidak berdiri sendiri, tapi saling terhubung dan menjadi satu kekuatan besar untuk pariwisata dan ekonomi kreatif,” ungkapnya.
Dengan konsep CoE terintegrasi ini, Yogyakarta diharapkan mampu memperkuat identitasnya sebagai kota budaya dan festival, sekaligus meningkatkan kontribusi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. (Fahmi)
(Humas Pemkot Yogyakarta)


.png)


.jpeg)



