Sejak hari pertama pelaksanaan, suasana festival sudah terasa semarak. Berbagai pertunjukan seni tradisional khas Betawi ditampilkan secara bergantian, mulai dari pawai ondel-ondel, kesenian dondang, pencak silat budaya, hingga adu bedug yang menjadi ikon utama dan daya tarik terbesar masyarakat.
Ribuan warga dari berbagai usia tampak antusias memadati lokasi kegiatan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga turut serta meramaikan suasana dengan mengenakan atribut budaya dan mengikuti rangkaian acara hingga selesai. Puncak kegiatan yang digelar pada Minggu (19/4/2026) bahkan berhasil menyedot perhatian sekitar 12.000 warga dari Mustika Jaya dan wilayah sekitarnya.
Festival Adu Bedug dan Dondang telah menjadi agenda budaya tahunan yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga sarana pelestarian warisan budaya Betawi yang masih hidup di tengah masyarakat urban Bekasi. Dentuman bedug yang ditabuh secara bergantian oleh perwakilan tiap kelurahan menjadi simbol kekuatan tradisi, kebersamaan, dan sportivitas antarwarga.
Selain itu, penampilan seni dondang yang sarat makna pesan moral dan nilai-nilai kehidupan turut memperkaya nuansa festival. Pawai ondel-ondel yang berkeliling area acara juga menjadi magnet tersendiri, terutama bagi anak-anak dan generasi muda.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, didampingi Ketua TP PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono, hadir langsung dalam acara puncak festival. Dalam sambutannya, Tri Adhianto menyampaikan apresiasi tinggi terhadap partisipasi masyarakat yang begitu besar dalam menjaga dan melestarikan budaya daerah.
“Festival ini menjadi bukti bahwa masyarakat masih mencintai dan menjaga budaya lokal. Ini adalah kekuatan kita dalam membangun kebersamaan dan identitas daerah,” ujar Tri Adhianto di hadapan ribuan warga.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan budaya seperti ini memiliki peran penting dalam memperkuat persatuan masyarakat di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.
Lebih lanjut, Tri Adhianto menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya.
“Kita ingin generasi muda tidak melupakan budaya lokal. Melalui kegiatan seperti ini, mereka bisa belajar, mengenal, dan bangga dengan warisan budaya yang kita miliki,” tambahnya.
Selain itu, acara puncak Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19 Tahun 2026 juga turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bekasi, Dzikron, ST., MT., yang memberikan dukungan terhadap upaya pelestarian budaya daerah melalui kegiatan tersebut.
Kehadiran jajaran Disparbud Kota Bekasi ini menjadi bentuk nyata sinergi antara pemerintah kota dan pemerintah kecamatan dalam menjaga, mengembangkan, serta mempromosikan potensi seni dan budaya lokal, khususnya budaya Betawi yang terus hidup di tengah masyarakat Mustika Jaya.
Dengan kehadiran para pemangku kepentingan tersebut, festival ini semakin menegaskan posisinya sebagai agenda budaya strategis yang tidak hanya menjadi milik masyarakat Mustika Jaya, tetapi juga bagian dari identitas budaya Kota Bekasi secara keseluruhan.
Camat Mustika Jaya, Maka Nachrowi, S.Ap., M.Si., menyampaikan bahwa Festival Adu Bedug dan Dondang merupakan hasil kolaborasi dan gotong royong seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan, hingga komunitas seni dan budaya.
“Festival ini bukan hanya acara seremonial, tetapi bentuk nyata kebersamaan masyarakat Mustika Jaya dalam menjaga tradisi Betawi. Kami sangat mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Lurah Mustikajaya, Ahmad Jazuli, S.AP., menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi wadah mempererat silaturahmi antarwarga di tingkat kelurahan.
“Kami melihat antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebersamaan dan budaya masih sangat kuat di tengah masyarakat kita. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan semakin berkembang di tahun-tahun mendatang,” ujarnya.
Festival Adu Bedug dan Dondang ke-19 ini kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu agenda budaya paling dinantikan di Kota Bekasi, khususnya di Kecamatan Mustika Jaya. Selain menjadi hiburan rakyat, kegiatan ini juga menjadi ruang ekspresi seni, ajang silaturahmi, serta sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Dengan semangat gotong royong dan partisipasi aktif masyarakat, festival ini diharapkan mampu terus berkembang menjadi ikon budaya yang tidak hanya dikenal di tingkat lokal, tetapi juga mampu menarik perhatian masyarakat luas di luar daerah.
Pemerintah Kota Bekasi bersama Pemerintah Kecamatan Mustika Jaya berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan, dengan inovasi yang lebih kreatif, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Festival ini pun menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal tetap hidup, berkembang, dan menjadi perekat sosial di tengah masyarakat yang semakin majemuk. (Bachtiar/Red)


.png)
.png)






