• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     










    Anindya Bakrie: Indonesia Harus Tutup Kesenjangan Skill AI untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi

    Liputanbhagasasi
    Selasa, 28 April 2026, 16:51 WIB Last Updated 2026-05-01T09:55:04Z
    Ket.foto : Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie (Doc.net)

    Liputanbhagasasi.com - Jakarta, Kantor Berita LBN - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menegaskan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap teknologi dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri acara Dialogue on Talent Development Fireside Chat bertajuk “Closing the AI Skills Gap: Strategies for Developing Future-Ready Workforce” yang diselenggarakan oleh Singapore Management University (SMU) International Indonesia di Energy Building SCBD, Jakarta Pusat, Selasa (28/04/2026).

    Dalam forum tersebut, Anindya yang akrab disapa Anin menyoroti potensi besar Indonesia dari sisi demografi. Ia menyebutkan bahwa Indonesia menyumbang sekitar 4 persen dari total populasi dunia. Namun demikian, kontribusi Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) global masih berada di kisaran 1,3 hingga 1,4 persen.


    “Artinya kita masih punching below our weight. Ini bisa dilihat sebagai tantangan, tapi juga peluang,” ujar Anin di hadapan peserta diskusi yang terdiri dari akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan.


    Menurutnya, kesenjangan tersebut menjadi indikasi bahwa potensi besar yang dimiliki Indonesia belum sepenuhnya dioptimalkan. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat untuk meningkatkan kualitas SDM, khususnya dalam menghadapi transformasi digital yang semakin cepat, termasuk adopsi teknologi AI.


    Anin menekankan bahwa pengembangan AI di Indonesia tidak harus berfokus pada penciptaan teknologi dari nol, melainkan lebih pada implementasi dan pemanfaatannya secara aplikatif. Ia menilai Indonesia memiliki tantangan yang unik, sehingga solusi berbasis AI harus dirancang secara spesifik sesuai kebutuhan nasional.


    “AI ini sesuatu yang baru, jadi kita harus fokus di aplikasinya. Indonesia punya masalah yang unik, dan kita perlu membuat solusi yang tailor-made sesuai dengan tantangan dan peluang yang kita hadapi,” jelasnya.


    Lebih lanjut, Anin menyoroti peran krusial sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam ekosistem ekonomi nasional. Ia mengungkapkan bahwa sekitar 97 persen tenaga kerja di Indonesia terserap oleh sektor UMKM, sehingga keberhasilan transformasi digital, termasuk adopsi AI, sangat bergantung pada keterlibatan sektor ini.


    “AI hanya akan berhasil sejauh kita mampu menggerakkan UMKM,” tegasnya.


    Dalam kesempatan tersebut, Anin juga memaparkan capaian investasi nasional pada kuartal I tahun 2026 yang mencapai Rp500 triliun. Menariknya, ia menekankan bahwa sebagian besar investasi tersebut bukan berasal dari proyek-proyek besar, melainkan investasi skala kecil dengan rata-rata sekitar Rp1,5 miliar per proyek.


    “Banyak yang mengira investasi besar datang dari proyek-proyek raksasa, padahal sebagian besar berupa penambahan mesin, kendaraan, atau ekspansi kecil lainnya,” ungkapnya.


    Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia banyak ditopang oleh aktivitas usaha skala kecil dan menengah yang tersebar luas. Oleh karena itu, integrasi teknologi seperti AI ke dalam sektor ini dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.


    Ke depan, Anin melihat bahwa penerapan AI memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan industri, khususnya di sektor jasa seperti keuangan, kesehatan, dan pendidikan. Ketiga sektor tersebut dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang cepat terhadap teknologi sekaligus memberikan dampak luas bagi masyarakat.


    “Di era AI, kita tidak hanya bertahan, tapi harus kembali ke growth story. Sektor jasa seperti keuangan, kesehatan, dan edukasi adalah yang paling cepat beradaptasi sekaligus menciptakan inovasi,” pungkasnya.


    Melalui forum ini, diharapkan kolaborasi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah dapat semakin diperkuat guna menjembatani kesenjangan keterampilan di bidang AI serta mempersiapkan tenaga kerja Indonesia yang siap menghadapi tantangan masa depan.

    Sumber: Kadin.id

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini