Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, turut hadir dalam rangkaian acara tersebut dan secara resmi membuka pawai ogoh-ogoh yang menjadi salah satu tradisi penting menjelang Hari Raya Nyepi. Pawai ini diikuti oleh umat Hindu di Kota Bekasi sebagai simbol penyucian diri sekaligus upaya mengusir sifat-sifat negatif dalam diri manusia.
Pawai ogoh-ogoh merupakan bagian dari prosesi Bhuta Yajna, yang memiliki makna menyeimbangkan hubungan antara manusia dengan alam semesta. Ogoh-ogoh yang diarak melambangkan sifat-sifat buruk seperti amarah, keserakahan, dan hawa nafsu yang harus dikendalikan.
Dalam sambutannya, Tri Adhianto menyampaikan apresiasi atas semangat kebersamaan dan toleransi yang terus terjaga di tengah keberagaman masyarakat Kota Bekasi. Ia menegaskan bahwa perayaan Nyepi bukan hanya menjadi momen ibadah bagi umat Hindu, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antarumat beragama.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirawat dalam semangat saling menghormati. Inilah kekuatan Kota Bekasi, di mana toleransi hidup dan tumbuh di tengah masyarakat,” ujar Tri.
Ia juga berharap perayaan Nyepi dapat semakin memperkuat harmoni sosial serta menjaga kondusivitas wilayah, sejalan dengan komitmen Pemerintah Kota Bekasi dalam merawat keberagaman sebagai fondasi pembangunan daerah.
Di sisi lain, suasana bulan suci Ramadan di Kota Bekasi turut menghadirkan nuansa hangat dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat toleransi antarumat beragama semakin terasa melalui berbagai perayaan lintas keyakinan yang berlangsung secara berdampingan.
Mulai dari perayaan Cap Go Meh yang meriah hingga Nyepi yang dijalankan dengan penuh kekhidmatan, seluruhnya mencerminkan kuatnya nilai toleransi di tengah masyarakat. Momentum ini menegaskan bahwa keberagaman di Kota Bekasi bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan dalam membangun harmoni sosial yang damai dan saling menghormati. (Bachtiar/Red)









