Ket.foto : sosok Suhendar, atau yang akrab disapa Om Suhendar, seorang caraka di KB-TK Islam Teratai Putih Global Bekasi yang memiliki kebiasaan berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dalam kesehariannya. (Doc.ist)
“Good morning!”
Sapaan tersebut menjadi salah satu kebiasaan Om Suhendar ketika menyambut anak-anak yang datang ke sekolah. Sapaan sederhana itu terkadang dibalas dengan senyuman, ada pula anak yang menjawab dengan malu-malu.
“Good morning, Om!”
Bagi warga sekolah, kebiasaan tersebut menjadi pemandangan yang menarik. Pasalnya, Om Suhendar bukan guru Bahasa Inggris maupun guru kelas. Ia merupakan caraka yang kesehariannya bertugas membantu berbagai kebutuhan operasional sekolah.
Namun, kebiasaannya menggunakan Bahasa Inggris justru menghadirkan pengalaman belajar tersendiri bagi anak-anak.
Dari “Good Morning” hingga “See You”
Beberapa ungkapan sederhana seperti “Good morning”, “How are you?”, “Thank you”, “Be careful”, hingga “See you” kerap digunakan Om Suhendar ketika berinteraksi dengan anak-anak maupun warga sekolah.
Bagi orang dewasa, ungkapan tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun bagi anak usia dini, mendengar Bahasa Inggris digunakan dalam percakapan sehari-hari dapat menjadi pengalaman yang berbeda.
Anak-anak perlahan mulai mendengar, menirukan dan mencoba menjawab.
Bahasa Inggris yang biasanya mereka kenal sebagai sesuatu yang dipelajari di dalam kelas, kemudian hadir secara natural dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak selalu membutuhkan buku, papan tulis maupun suasana pembelajaran formal. Percakapan singkat yang terjadi di halaman, lorong atau lingkungan sekolah dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar.
Kebiasaan Om Suhendar tersebut juga sejalan dengan budaya yang sedang dibangun di KB-TK Islam Teratai Putih Global.
Setiap Rabu, sekolah menerapkan pembiasaan menggunakan Bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari.
Pembiasaan tersebut tidak diarahkan agar anak usia dini langsung menguasai banyak kosakata atau dituntut fasih berbicara. Bahasa Inggris diperkenalkan melalui ungkapan sederhana yang dekat dengan kehidupan anak.
Mulai dari sapaan, ucapan terima kasih, pertanyaan sederhana, instruksi ringan hingga percakapan pendek.
Menariknya, Om Suhendar ikut mengambil bagian dalam pembiasaan tersebut bukan dengan berdiri di depan kelas, melainkan melalui interaksi sehari-hari dengan anak-anak dan warga sekolah.
Hal tersebut membuat penggunaan Bahasa Inggris terasa lebih natural dan tidak seperti sebuah kegiatan pembelajaran yang kaku.
Kisah Om Suhendar memberikan gambaran bahwa sekolah merupakan sebuah ekosistem belajar. Anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari orang-orang yang mereka temui setiap hari.
Mereka dapat belajar dari cara satpam menyambut dengan ramah, petugas kebersihan menjaga lingkungan, tenaga kependidikan memberikan pelayanan, maupun seorang caraka yang berani menggunakan bahasa asing.
Bagi anak usia dini, keteladanan tidak selalu hadir melalui nasihat panjang. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten juga dapat menjadi pengalaman belajar.
Dari satu sapaan, anak belajar merespons. Dari satu pertanyaan, mereka belajar menjawab. Dari keberanian orang dewasa menggunakan Bahasa Inggris, mereka belajar bahwa bahasa asing tidak perlu ditakuti.
Sosok Om Suhendar juga membawa pesan bahwa kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan tidak dibatasi oleh jabatan maupun profesi.
Seorang caraka tidak harus menjadi guru Bahasa Inggris untuk berani menggunakan Bahasa Inggris. Ia juga tidak harus berdiri di depan kelas untuk memberikan pengalaman belajar kepada anak-anak.
Melalui percakapan sederhana, Om Suhendar justru memberikan contoh nyata bahwa proses belajar dapat berlangsung kapan saja dan di mana saja.
Anak-anak tidak merasa sedang diuji. Mereka cukup mendengar, mencoba dan perlahan membangun keberanian untuk berbicara.
Satu kata hari ini, dua kata berikutnya, hingga akhirnya mampu mengucapkan kalimat sederhana.
“See You, Om!”
Saat kegiatan sekolah berakhir, anak-anak mulai meninggalkan kelas dan bertemu orang tua yang menjemput.
Di tengah suasana tersebut, Om Suhendar kembali berpapasan dengan anak-anak.
“See you!”
Kali ini, jawaban datang dengan lebih cepat.
“See you, Om!”
Dua kata sederhana tersebut mungkin terdengar biasa. Namun bagi anak yang sedang belajar bahasa, keberanian untuk menjawab merupakan sebuah proses penting.
Kisah Om Suhendar sekaligus menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru berdiri di depan kelas. Pendidikan juga dapat hadir di halaman sekolah, lorong, gerbang maupun dalam percakapan singkat antara anak dan orang-orang di lingkungan sekolah.
Om Suhendar mungkin tidak memiliki jadwal mengajar Bahasa Inggris dan tidak pernah menuliskan rencana pembelajaran. Namun melalui sapaan-sapaan sederhananya, ia ikut menunjukkan kepada anak-anak bahwa menggunakan bahasa asing dapat dilakukan dengan percaya diri.
Dari sosok seorang caraka, warga sekolah mendapatkan pesan sederhana bahwa siapa pun pekerjaannya dan siapa pun orangnya, selalu ada kesempatan untuk belajar dan menginspirasi. (*)
Sumber : Humas KB - TK Teratai Putih Global Bekasi


.png)






