• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan





    Gerak Cepat Usai Dilantik, Kepala BGN Baru Benahi Tata Kelola dan Efesiensi Anggaran Program Makan Bergizi Gratis

    Liputanbhagasasi
    Kamis, 04 Juni 2026, 21:16 WIB Last Updated 2026-06-04T14:16:55Z
    Ket.foto : Kepala BGN Nanik S paparkan program kerja

    Liputanbhagasasi.com - Jakarta, Kantor Berita LBN - Usai resmi dilantik, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang baru, Nanik S. Deyang, langsung bergerak cepat melakukan konsolidasi dan penataan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah strategis tersebut dilakukan untuk meningkatkan efektivitas program melalui penguatan tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran penerima manfaat, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia.

    Komitmen tersebut disampaikan Nanik dalam Konferensi Pers Badan Gizi Nasional yang berlangsung di Kantor Pusat BGN, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum awal bagi jajaran pimpinan baru BGN untuk menyusun arah kebijakan dan langkah strategis dalam pelaksanaan program ke depan.

    Menurut Nanik, fokus utama BGN saat ini adalah memastikan setiap rupiah anggaran dan sumber daya yang digunakan mampu memberikan dampak maksimal bagi masyarakat, khususnya kelompok yang membutuhkan intervensi gizi secara langsung.

    “Fokus kami saat ini adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami melakukan penataan pelaksanaan program agar kualitas layanan dapat terus ditingkatkan,” ujar Nanik.

    Sebagai bagian dari upaya pembenahan, BGN melakukan penataan ulang berbagai aspek pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Langkah tersebut mencakup refocusing penerima manfaat agar intervensi gizi lebih terarah kepada kelompok prioritas, moratorium sementara pembangunan dapur baru, serta optimalisasi dapur yang telah beroperasi agar mampu melayani lebih banyak penerima manfaat secara efektif.

    Selain itu, BGN juga memperkuat pembinaan dan standardisasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna memastikan seluruh dapur penyedia makanan memenuhi standar keamanan pangan, mutu layanan, serta kualitas sumber daya manusia yang telah ditetapkan.

    Melalui langkah tersebut, BGN ingin memastikan setiap makanan yang disalurkan kepada masyarakat memiliki kualitas gizi yang baik, aman dikonsumsi, dan sesuai dengan standar kesehatan yang berlaku.

    Nanik mengakui bahwa saat ini masih terdapat ketimpangan distribusi layanan Program MBG. Sebagian besar dapur masih terkonsentrasi di wilayah perkotaan dan aglomerasi, sementara sejumlah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan penguatan layanan.

    “Saat ini masih terdapat konsentrasi dapur yang tinggi di wilayah aglomerasi, sementara sejumlah daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) masih membutuhkan penguatan layanan. Karena itu kami melakukan penataan agar pemerataan manfaat program benar-benar dapat dirasakan oleh seluruh anak Indonesia,” jelasnya.

    Untuk menjawab tantangan tersebut, BGN tengah menyiapkan berbagai skema implementasi MBG yang lebih adaptif bagi wilayah 3T. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya melalui pembangunan fasilitas baru, tetapi juga dengan mengoptimalkan sarana yang telah tersedia seperti kantin sekolah, dapur umum, dan fasilitas komunitas yang memenuhi standar operasional program.

    Dalam upaya memperluas jangkauan layanan, BGN membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Kerja sama tersebut melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), yayasan sosial, hingga berbagai pihak yang memiliki komitmen mendukung peningkatan gizi masyarakat Indonesia.

    Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat perluasan layanan Program Makan Bergizi Gratis, khususnya di daerah-daerah yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur dan layanan pemenuhan gizi.

    Di tengah proses konsolidasi yang sedang berjalan, Nanik menegaskan bahwa kualitas layanan tetap menjadi prioritas utama. Oleh sebab itu, pembenahan standar operasional, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan sistem pengawasan menjadi agenda penting yang sedang dijalankan BGN.

    “Kami ingin memastikan setiap dapur menghasilkan makanan yang aman, sehat, dan bergizi. Karena itu, pembenahan standar operasional, peningkatan kapasitas SDM, serta penguatan pengawasan menjadi agenda utama kami,” tegasnya.

    Sementara itu, Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menyampaikan bahwa penguatan tata kelola akan dilakukan melalui peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, serta pengembangan sistem yang lebih terstruktur dan terukur.

    Menurut Agustina, tata kelola yang baik harus dibangun di atas sistem yang kuat sehingga pelaksanaan program dapat berjalan secara akuntabel, transparan, dan berkelanjutan.

    “Kami akan memperkuat integrasi data dan sistem informasi agar setiap kebijakan dapat didukung oleh data yang valid. Selain itu, berbagai rekomendasi dari lembaga pengawas akan menjadi bagian dari upaya penyempurnaan tata kelola yang sedang kami lakukan,” ujarnya.

    Dalam penajaman sasaran program, BGN juga memperkuat intervensi kepada kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok ini dinilai sangat strategis dalam upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.

    Melalui berbagai langkah pembenahan yang dilakukan, BGN optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan. Program ini diharapkan menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045. (Novian/Tim)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini