Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bekasi, Dodi Supriadi, menyampaikan bahwa berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada Juli hingga September 2026.
“Secara prediksi kita mulai memasuki musim kemarau, namun kondisi di lapangan saat ini masih terdapat hujan di sejumlah wilayah. Karena itu masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini Kabupaten Bekasi masih berstatus siaga darurat bencana berdasarkan Keputusan Bupati Bekasi Nomor 100.3.3.2/Kep.508-BPBD/2025 yang berlaku hingga 30 April 2026. Status tersebut mencakup potensi banjir, banjir bandang, cuaca ekstrem, gelombang ekstrem, abrasi, hingga tanah longsor.
Menurut Dodi, masa peralihan musim seperti saat ini memiliki potensi tinggi memicu berbagai jenis bencana. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah harus terus ditingkatkan guna meminimalisir risiko yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau, BPBD mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dengan menghemat pemakaian serta segera memperbaiki kebocoran pada saluran air di lingkungan masing-masing.
Selain itu, warga juga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah guna mencegah risiko kebakaran yang kerap meningkat saat musim kemarau.
Di sektor pertanian, masyarakat didorong untuk beradaptasi dengan kondisi cuaca, di antaranya dengan menggunakan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, mengatur jadwal tanam, serta mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air.
BPBD juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, seperti mempertahankan vegetasi dan aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan sebagai upaya jangka panjang dalam mengurangi dampak bencana.
Dalam aspek kesehatan, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan guna menghindari penyakit yang disebabkan oleh debu, serta memastikan ketersediaan air bersih yang memadai.
Tak kalah penting, masyarakat diminta untuk rutin memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG agar dapat mengambil langkah antisipatif secara cepat dan tepat.
“Langkah-langkah ini penting untuk mengurangi risiko kekeringan serta menjaga ketahanan air dan pangan di tengah perubahan musim,” tambahnya.
Imbauan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan BPBD Provinsi Jawa Barat yang meminta seluruh pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Melalui berbagai upaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Bekasi berharap masyarakat semakin siap menghadapi dinamika cuaca serta mampu memperkuat ketahanan daerah terhadap potensi bencana, baik pada masa peralihan musim maupun saat puncak musim kemarau. (Red)


.png)






