Di sejumlah wilayah Kota Bekasi, aktivitas nyorog mulai terlihat sejak beberapa hari terakhir Ramadan. Warga tampak antusias menyiapkan hantaran yang akan dibawa secara langsung sebagai simbol silaturahmi dan rasa hormat.
“Setiap mau Lebaran pasti nyorog, ini sudah jadi kebiasaan dari dulu. Yang penting bukan isi bingkisannya, tapi niat silaturahmi dan menghormati orang tua,” imbuh salah satu warga Bekasi.
Tradisi nyorog tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan di tengah kehidupan modern yang serba cepat. Momen ini sering dimanfaatkan untuk saling bermaafan sebelum Hari Raya tiba.
Kepala Bidang Budaya Disbudpora Kabupaten Bekasi, Roro Rispika, menegaskan bahwa tradisi nyorog merupakan warisan budaya Betawi yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.
“Tradisi nyorog ini mengandung nilai luhur, seperti gotong royong, rasa hormat, dan kepedulian sosial. Kami berharap generasi muda di Bekasi tetap mempertahankan budaya ini sebagai identitas daerah,” imbuh Roro.
Dengan tetap lestarinya tradisi nyorog, masyarakat Bekasi tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam menyambut hari kemenangan Idul Fitri. (Red)









