• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     










    Nyorog Jelang Lebaran, Tradisi Betawi Bekasi yang Penuh Makna dan Kehangatan Keluarga

    Liputanbhagasasi
    Kamis, 19 Maret 2026, 17:00 WIB Last Updated 2026-03-19T12:34:02Z
    Ket. Foto : Aki Maja dan Ilustrasi

    Liputanbhagasasi.com - Bekasi, Kantor Berita LBN - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi Betawi Bekasi, terutama nyorog kebiasaan mengantarkan bingkisan makanan ke sanak keluarga masih tetap hidup dan dirayakan dengan penuh antusias. Tradisi ini tidak hanya sarat makna kebersamaan, tetapi juga menjadi simbol penghormatan kepada anggota keluarga yang lebih tua.

    “Dulu kalau Lebaran kurang satu hari saja, masyarakat kampung kita sudah sibuk menyiapkan untuk datangnya Lebaran. Ada yang sibuk mengolah daging kerbau, bikin kue, merebus ketupat, bahkan membeli baju baru. Sementara itu, langgar dan masjid sudah ramai dengan suara takolan bedug bocah,” pungkas salahsatu warga Bekasi.

    Sore harinya, warga sudah mulai sibuk dengan bebawaan, atau nyorog. Jalanan kampung dipenuhi orang yang berjalan kaki membawa tentengan atau rantang berisi olahan makanan untuk dibawa ke orang tua dan kerabat yang lebih tua. “Rasanya benar-benar hari Lebaran, apalagi saat takbir mulai berkumandang di langgar dan masjid, sampai ada yang meneteskan air mata,” imbuh warga tersebut.

    Menurut Kepala Bidang Budaya Dinas Pariwisata Kota Bekasi, Maja Yusirwan, yang akrab disapa Aki Maja, tradisi nyorog ini menjadi bagian penting dari identitas budaya Betawi Bekasi. “Bebawaan atau nyorog ini tidak sekadar memberi makanan. Ini mengandung nilai sosial, gotong-royong, dan rasa hormat yang tinggi terhadap keluarga. Generasi muda harus tetap melestarikan tradisi ini,” jelas Aki Maja.

    Dulu, menjelang sore, keluarga sudah menyiapkan tikar di bale rumah untuk persiapan sedekah malam Lebaran, sambil menunggu kedatangan anak, ponakan, dan cucu yang membawa bebawaan. “Kalau Lebaran, biasanya yang paling berkah adalah saudara tertua. Bebawaan sampai tidak muat di meja dapur. Anak-anaknya banyak, sepuluh anak saja bisa membawa sepuluh rantang, belum ponakan dan menantu. Semur kerbau dan sayur kembili bahkan sampai tidak muat di pasu. Ikan tembang dan perek dijadikan lauk tambahan, anak-anak paling senang gadoin ikan gabus kering dan bucak bacek,” Kutipan dari Bang Sarin Sarmadi yang akrab dipanggil Bang Ilok, Ketua Yayasan Kebudayaan Orang Bekasi (KOASI).

    Dari sore hingga malam, orang-orang membawa bebawaan sambil berjalan kaki tanpa henti. Suara petasan, bedug, takbir, dan langkah warga yang sedang nyorog berpadu, menciptakan suasana Lebaran yang meriah dan syahdu. “Kalau malam takbiran, sampai menetes air mata bagi yang sudah tidak memiliki orang tua. Rasanya sangat terasa hangat dan emosional".

    Tradisi nyorog di Bekasi bukan sekadar ritual, tetapi simbol kekayaan budaya dan nilai kekeluargaan yang tetap hidup di tengah modernisasi. Dengan dilestarikannya tradisi ini, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan sosial menjelang hari kemenangan Idul Fitri. Tutup Aki Maja. (Bachtiar/Red)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini