Liputanbhagasasi.com - Jakarta, Kantor Berita LBN - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya menghadiri penutupan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) yang digelar di Hotel Novotel Pulomas, Jakarta, pada Sabtu (7/3/2026). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ekraf menegaskan bahwa GEKRAFS memiliki peran penting sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah.
Dalam sambutannya, Teuku Riefky menyampaikan bahwa selama tujuh tahun terakhir GEKRAFS telah berkembang pesat. Organisasi yang awalnya berbentuk komunitas tersebut kini telah menjelma menjadi gerakan nasional dengan lebih dari 38.000 anggota yang tersebar di 38 provinsi serta ratusan kabupaten dan kota di Indonesia.
“Selama tujuh tahun terakhir, GEKRAFS sebagai mitra strategis pemerintah berbentuk komunitas berkembang menjadi gerakan nasional dengan lebih dari 38.000 anggota di 38 provinsi serta ratusan kabupaten dan kota,” ujar Teuku Riefky yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Penasihat DPP GEKRAFS.
Rakernas GEKRAFS 2026 mengusung tema “Astakarya: Akselerasi Karya, Transformasi Ekonomi Indonesia” dan diselenggarakan selama dua hari, yakni 6 hingga 7 Maret 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus GEKRAFS dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam forum tersebut dibahas sejumlah isu strategis terkait pengembangan ekonomi kreatif, mulai dari akses pembiayaan bagi pelaku usaha kreatif, perlindungan kekayaan intelektual, transformasi digital, hingga penguatan creative hub dan perluasan akses pasar agar produk kreatif Indonesia mampu bersaing di tingkat global.
Kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan GEKRAFS sendiri terus berkembang sejak penandatanganan nota kesepahaman pada Juli 2025. Berbagai program bersama telah dijalankan, di antaranya rangkaian kegiatan bulan kreatif bertajuk Oktoberkreasi menjelang peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional, serta fasilitasi pertemuan antara pegiat ekonomi kreatif Indonesia dengan komunitas kreatif di Jepang dalam kegiatan yang digelar di Osaka.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Ekraf juga memaparkan salah satu capaian penting pemerintah pada tahun 2026, yaitu penyiapan plafon pembiayaan hingga Rp10 triliun melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) berbasis Kekayaan Intelektual (KI). Skema ini diharapkan dapat membuka akses permodalan bagi para pelaku ekonomi kreatif yang selama ini kesulitan mendapatkan pembiayaan dari lembaga keuangan.
Melalui program tersebut, para wirausaha ekonomi kreatif dapat mengakses pinjaman mulai dari sekitar Rp100 juta hingga Rp500 juta. Penyaluran pembiayaan ini nantinya juga akan didorong melalui kerja sama dengan GEKRAFS sebagai mitra strategis pemerintah di berbagai daerah.
“Kami sedang memperjuangkan kekayaan intelektual sebagai agunan pokok. Saat ini masih dalam masa transisi sehingga masih digunakan sebagai jaminan pendukung sambil membangun kepercayaan dengan institusi keuangan. Untuk mempercepatnya, Kementerian Ekraf akan membentuk Satgas bersama GEKRAFS sebagai mitra strategis pemerintah,” jelas Teuku Riefky.
Selain itu, Menteri Ekraf juga mengungkapkan bahwa Peraturan Presiden tentang Rencana Induk Ekonomi Kreatif 2026–2045 telah selesai disusun dan dalam waktu dekat akan segera disahkan. Ia berharap GEKRAFS dapat berperan aktif dalam menyosialisasikan serta mengamplifikasi kebijakan tersebut kepada para pelaku ekonomi kreatif di seluruh daerah.
Sementara itu, Ketua Umum GEKRAFS Kawendra Lukistian menegaskan komitmen organisasinya untuk terus memperkuat pemberdayaan para pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Hal tersebut akan diwujudkan melalui delapan program utama yang diberi nama Asta Karya.
“Kalau Presiden Prabowo punya Asta Cita, kami juga menghadirkan Asta Karya, delapan program untuk memberdayakan pegiat ekonomi kreatif. Kami juga berterima kasih kepada Kementerian Ekraf yang telah melantik Penilai Kekayaan Intelektual, sehingga karya para kreator kini bisa menjadi kolateral untuk mendapatkan akses permodalan yang layak,” ujar Kawendra.
Melalui sinergi antara pemerintah dan komunitas kreatif seperti GEKRAFS, diharapkan sektor ekonomi kreatif Indonesia semakin berkembang, mampu menciptakan lapangan kerja baru, serta menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan. (Bachtiar/Red)


.png)


.png)
.png)


