Salah satu pengrajin batik di Bekasi, mengungkapkan bahwa sejak awal Ramadan hingga mendekati Lebaran, pesanan yang masuk cenderung sepi. Padahal, momentum Idul Fitri selama ini menjadi harapan bagi para pelaku usaha batik untuk meningkatkan pendapatan.
“Biasanya menjelang Lebaran banyak yang pesan untuk seragam keluarga atau oleh-oleh. Tapi tahun ini jauh berkurang, bahkan bisa dibilang sepi,” ujarnya saat ditemui di tempat produksinya.
Menurutnya, beberapa faktor diduga menjadi penyebab menurunnya minat masyarakat terhadap batik lokal. Di antaranya adalah perubahan tren busana, meningkatnya persaingan dengan produk pabrikan yang lebih murah, serta kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja.
Selain itu, maraknya penjualan produk fashion melalui platform online dengan harga terjangkau juga turut memengaruhi penjualan batik tradisional. Hal ini membuat pengrajin lokal harus bersaing lebih keras untuk menarik minat konsumen.
Para pengrajin berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk promosi maupun pelatihan pemasaran digital, agar batik Bekasi tetap diminati dan mampu bersaing di pasar.
“Kami berharap ada dukungan, misalnya lewat pameran atau promosi UMKM, supaya batik Bekasi bisa lebih dikenal dan diminati kembali,” tambahnya.
Meski menghadapi tantangan, para pengrajin tetap berupaya mempertahankan kualitas dan ciri khas batik Bekasi sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan. Mereka optimistis, dengan strategi yang tepat dan dukungan berbagai pihak, batik lokal masih memiliki peluang untuk bangkit di tengah persaingan pasar yang semakin ketat. (Red)


.png)






