Proses pembuatan dodol Betawi Baba Haji terbilang cukup panjang dan membutuhkan ketelatenan. Bahan utama seperti tepung ketan, gula merah, gula pasir, dan santan kelapa diolah secara manual menggunakan kuali besar. Adonan kemudian dimasak di atas tungku kayu bakar sambil terus diaduk selama berjam-jam hingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan cita rasa yang khas.
Salah satu perajin dodol setempat mengungkapkan bahwa proses pengadukan menjadi kunci utama dalam menjaga kualitas dodol. “Kalau tidak terus diaduk, dodol bisa gosong dan rasanya jadi berubah. Jadi memang butuh tenaga dan kesabaran,” ujarnya.
Dodol Betawi Baba Haji tidak hanya dikenal karena rasanya yang legit, tetapi juga karena aroma khas dari proses memasak tradisional yang masih menggunakan kayu bakar. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri, baik bagi warga lokal maupun pengunjung yang datang langsung untuk melihat proses pembuatannya.
Biasanya, produksi dodol meningkat menjelang hari-hari besar seperti Ramadan dan Idul Fitri. Permintaan yang tinggi membuat para perajin harus bekerja lebih ekstra untuk memenuhi pesanan dari berbagai daerah, termasuk luar Bekasi.
Keberadaan dodol Betawi Baba Haji di Kampung Ceger ini diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Kabupaten Bekasi. Selain sebagai kuliner khas, dodol ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata lokal berbasis kearifan tradisional. (Bachtiar/Red)



.png)






