Kembang goyang dikenal dengan teksturnya yang renyah dan cita rasa manis gurih. Proses pembuatannya yang unik, yakni dengan cara menggoyangkan cetakan di dalam minyak panas hingga adonan terlepas, menjadi asal-usul nama “kembang goyang”. Meski terbilang sederhana, kue ini membutuhkan ketelatenan dan teknik khusus agar menghasilkan bentuk yang cantik dan rasa yang pas.
Salah satu warga Bekasi, Siti Aminah (45), mengaku setiap tahun selalu membuat kembang goyang untuk disajikan saat Lebaran. “Ini sudah jadi tradisi keluarga. Dari dulu orang tua saya juga selalu bikin kembang goyang menjelang Lebaran. Rasanya belum lengkap kalau tidak ada kue ini di rumah,” ujarnya.
Tak hanya untuk konsumsi pribadi, kembang goyang juga menjadi peluang usaha musiman bagi sebagian warga. Banyak pelaku UMKM di Bekasi yang memproduksi kue ini dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan pasar yang meningkat tajam menjelang Idul Fitri.
Menurut pelaku usaha kue tradisional, Rudi (38), permintaan kembang goyang bisa meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari biasa. “Biasanya kita produksi dalam jumlah kecil, tapi kalau mau Lebaran seperti sekarang ini, pesanan terus berdatangan. Banyak yang cari kue tradisional untuk suguhan tamu,” katanya.
Selain sebagai camilan, kembang goyang juga memiliki nilai budaya yang tinggi. Kue ini menjadi simbol kebersamaan dan kehangatan keluarga saat momen Lebaran. Tradisi menyajikan kue-kue khas seperti kembang goyang turut melestarikan warisan kuliner Betawi di tengah gempuran makanan modern.
Pemerhati budaya Betawi di Bekasi menyebutkan bahwa kembang goyang merupakan salah satu identitas kuliner yang harus terus dijaga. “Generasi muda perlu dikenalkan dengan kue-kue tradisional seperti ini agar tidak hilang ditelan zaman. Lebaran menjadi momen yang tepat untuk melestarikannya,” ungkapnya.
Dengan cita rasa yang khas dan nilai tradisi yang kuat, kembang goyang tetap bertahan sebagai salah satu kuliner wajib saat Lebaran di Bekasi. Kehadirannya tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan dan kebersamaan di hari yang fitri. (Angga)