• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     








    Wamen Ekraf Irene Umar Dukung Penyelenggaraan JFFE 2026, Perkuat Ekosistem Festival di Yogyakarta

    Liputanbhagasasi
    Senin, 09 Februari 2026, 19:16 WIB Last Updated 2026-02-10T12:19:34Z
                                                                Dok : Kementerian Ekonomi Kreatif

    Liputanbhagasasi.com - Jakarta, Kantor Berita LBN - Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menyatakan dukungannya terhadap penyelenggaraan Jogja Festival Forum & Expo (JFFE) 2026 yang akan digelar pada 15–16 April 2026. Dukungan tersebut disampaikan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat ekosistem festival sebagai penggerak ekonomi kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta.

    Dalam audiensi bersama tim panitia JFFE 2026 di Autograph Tower, Jakarta, Senin (9/2), Wamen Ekraf Irene menegaskan bahwa Yogyakarta telah lama dikenal sebagai daerah dengan kekayaan festival budaya. Kehadiran JFFE 2026 dinilai mampu menjadi penguatan posisi Yogyakarta sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kreatif nasional.

    “Yogya is full expo sudah dikenal banyak orang, namun setiap perhelatan festival memang harus naik kelas. Kami bisa membantu mengoneksikan JFFE 2026 agar tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi kreatif melalui kolaborasi pejuang ekraf, pariwisata, digital, hingga merchandising yang berdampak luas secara ekonomi,” ujar Irene.

    Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui tema Festival as Cultural & Economic Infrastructure. Tema tersebut menekankan peran festival sebagai sarana kolaborasi dan diplomasi antarpelaku kreatif di Indonesia.

    Menurut Irene, salah satu fokus Kementerian Ekraf dalam lima tahun pertama adalah membangun fondasi yang kuat bagi komunitas kreatif serta membuka peluang peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif di berbagai daerah.

    “Dalam sebuah festival perlu dihadirkan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem, sehingga persoalan dan peluang dapat dibahas bersama. Dari sinilah kolaborasi dan model bisnis baru bisa terbentuk,” tuturnya.

    Jogja Festivals sendiri merupakan wadah kolaborasi bagi pengembangan festival, seni, budaya, dan kreativitas di Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat ini, platform tersebut menaungi sekitar 40 festival yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Namun, integrasi antara pelaku ekonomi kreatif dengan sistem pendukung Intellectual Property (IP) masih perlu diperkuat melalui peran aktif negara.

    Managing Director Jogja Festivals, Dinda Intan Pramesti Putri, menjelaskan bahwa pihaknya terus mendorong penguatan jejaring dan kerja sama lintas subsektor.

    “Jogja Festivals adalah rumah bagi semua festival di Jogja. Berawal dari 15 festival, kini berkembang menjadi 40 festival. Kami ingin membangun forum subsektor untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pertukaran pengetahuan, penguatan jejaring, dan kerja sama internasional,” jelas Dinda.

    Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah mendeklarasikan wilayahnya sebagai Kota Festival. Hal ini menjadikan festival sebagai simpul strategis penggerak ekonomi kreatif sekaligus penguatan city branding yang berdampak langsung pada sektor pariwisata dan industri kreatif.

    Melalui JFFE 2026, pengembangan paket wisata berbasis konten festival, kerja sama dengan agen perjalanan, serta pemanfaatan platform digital turut didorong untuk memperluas jangkauan promosi hingga ke tingkat global.

    “Festival menjadi market ideas dari setiap subsektor ekraf dan merupakan soft infrastructure dalam ekosistem kreatif. Karena itu, kami membutuhkan dukungan untuk penguatan ekosistem festival agar pengembangan bisnis dapat dilakukan secara lebih terbuka dan inovatif,” tambah Dinda.

    Dalam audiensi tersebut, Wamen Ekraf Irene didampingi oleh Plh. Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Amir Hamzah, Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan Dadam Mahdar, serta dihadiri Deputy Partnership Jogja Festivals Felencia Hutabarat dan Festival Manager Jogja-NETPAC Asian Film Lyza Anggraheni. (Bachtiar/Red)

    Sumber : Kementerian Ekonomi Kreatif
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini