• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     








    Silsilah Gabus Pucung Jadi Kuliner Khas Bekasi

    Liputanbhagasasi
    Jumat, 13 Februari 2026, 10:12 WIB Last Updated 2026-02-13T03:12:59Z


    Liputanbhagasasi.com - Bekasi, Kantor Berita LBN - Di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri dan modernisasi kota, Bekasi tetap menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang sarat sejarah. Salah satu hidangan legendaris yang hingga kini masih bertahan dan menjadi identitas daerah adalah Gabus Pucung. Kuliner berkuah hitam pekat ini bukan sekadar sajian biasa, melainkan bagian dari jejak budaya masyarakat Betawi Bekasi yang diwariskan turun-temurun.


    Gabus Pucung dikenal dengan ciri khas kuahnya yang berwarna hitam, berasal dari penggunaan kluwek atau pucung sebagai bahan utama bumbu. Ikan gabus yang digoreng terlebih dahulu kemudian dimasak dalam kuah berbumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, kunyit, jahe, dan lengkuas. Perpaduan rasa gurih, sedikit pahit khas kluwek, serta aroma rempah yang kuat menciptakan sensasi cita rasa yang unik dan berbeda dari olahan ikan pada umumnya.


    Secara historis, Gabus Pucung telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Betawi sejak ratusan tahun lalu. Hidangan ini kerap disajikan dalam berbagai acara adat, mulai dari hajatan pernikahan, khitanan, hingga perayaan hari besar. Dalam budaya Betawi Bekasi, menyajikan Gabus Pucung bukan hanya soal menjamu tamu, tetapi juga simbol penghormatan dan kebersamaan.


    Konon, penggunaan ikan gabus memiliki makna tersendiri. Ikan yang hidup di perairan tawar seperti rawa dan sungai ini melambangkan ketahanan dan kemampuan bertahan hidup di berbagai kondisi. Hal ini mencerminkan karakter masyarakat Bekasi tempo dulu yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.


    Seiring waktu, Gabus Pucung tak hanya hadir dalam acara adat, tetapi juga mulai dikenal luas sebagai ikon kuliner khas Bekasi. Berbagai rumah makan tradisional hingga festival budaya kerap menghadirkan menu ini sebagai daya tarik utama. Bahkan, sejumlah komunitas dan pelaku usaha kuliner di Bekasi aktif mempromosikan Gabus Pucung sebagai warisan kuliner lokal yang patut dilestarikan.


    Upaya pelestarian terus dilakukan agar generasi muda tidak melupakan kuliner khas daerahnya. Selain memperkenalkan resep asli, beberapa inovasi juga dilakukan tanpa menghilangkan cita rasa tradisional, seperti penyajian dengan konsep modern atau kemasan siap saji untuk oleh-oleh.


    Di tengah gempuran makanan cepat saji dan kuliner kekinian, Gabus Pucung tetap bertahan sebagai simbol identitas. Kuah hitamnya yang pekat seolah menjadi penanda sejarah panjang perjalanan masyarakat Bekasi. Bagi warga lokal, menikmati sepiring Gabus Pucung bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang mengenang akar budaya dan kebersamaan.


    Dengan nilai historis dan cita rasa yang khas, Gabus Pucung layak disebut sebagai salah satu mahakarya kuliner Nusantara yang lahir dari tanah Bekasi. Keberadaannya menjadi pengingat bahwa di balik geliat kota modern, tradisi dan kearifan lokal tetap hidup dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Bachtiar/Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini