• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


     

    Ironi Budaya di Tanah Sunda: Ketika Wisatawan Bule Menjunjung Etika, Nilai Lokal Justru Memudar

    Liputanbhagasasi
    Kamis, 15 Januari 2026, 21:08 WIB Last Updated 2026-01-15T14:08:03Z

    Liputanbhagasasi.com - Tasikmalaya, 15 Januari 2026 - Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu wilayah di Tatar Sunda yang kaya akan nilai budaya, sopan santun, dan kearifan lokal. Namun sebuah ironi justru terlihat di kawasan wisata alam Curug Cimedang, Desa Sukaharja, Kecamatan Sariwangi, Kabupaten Tasikmalaya. Sejumlah wisatawan asing atau bule yang berkunjung ke lokasi tersebut justru menunjukkan sikap santun, beretika, dan menghargai alam serta masyarakat sekitar bahkan dinilai melampaui sebagian perilaku warga lokal sendiri.

    Para pengunjung asing terlihat menjaga kebersihan, berbicara dengan sopan, menghormati aturan adat setempat, serta memperlakukan alam sebagai ruang yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Pemandangan ini menimbulkan keprihatinan tersendiri, mengingat nilai-nilai tersebut sejatinya merupakan inti dari budaya Sunda yang dikenal dengan prinsip someah hade ka semah, silih asih, silih asah, silih asuh.

    Sayangnya, seiring waktu dan perubahan gaya hidup, sebagian masyarakat lokal justru mulai kehilangan jati diri budayanya. Sikap abai terhadap lingkungan, minimnya etika dalam berwisata, hingga lunturnya rasa hormat terhadap alam dan sesama menjadi fenomena yang kian sering ditemui.

    Di tengah kondisi tersebut, masih ada sosok-sosok yang setia menjadi penjaga nilai dan pelestari alam. Mereka adalah Kang Panji, Ustad Deni, aBah Oleh Suryana, dan Kang Hasan tokoh lokal yang selama ini dikenal sebagai penjaga sekaligus pelestari Curug Cimedang. Dengan keterbatasan sarana, mereka terus berupaya merawat kawasan wisata alam tersebut, menjaga kebersihan, menegur pengunjung yang melanggar aturan, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan alam dan budaya.

    “Curug ini bukan hanya tempat wisata, tapi titipan alam untuk anak cucu. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ujar salah satu penjaga Curug Cimedang.

    Keberadaan para penjaga lokal ini menjadi pengingat bahwa budaya Sunda sejatinya belum hilang, hanya terpinggirkan. Nilai-nilai luhur tersebut masih hidup dan dijalankan oleh mereka yang konsisten menjaga alam dengan hati dan tanggung jawab.


    Fenomena wisatawan asing yang lebih beretika dibanding sebagian masyarakat lokal seharusnya menjadi cermin dan bahan introspeksi bersama. Bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan budaya, dan pariwisata bukan sekadar soal kunjungan, tetapi juga tentang karakter, etika, dan rasa memiliki terhadap tanah sendiri.

    Curug Cimedang pun menjadi simbol: keindahan alam yang menuntut kesadaran kolektif agar budaya Sunda tidak hanya menjadi slogan, tetapi kembali hidup dalam perilaku sehari-hari. (Red)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini