• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan


     

    Freelancer Rentan Burnout Meski Jam Kerja Fleksibel, Ini Penyebabnya

    Liputanbhagasasi
    Sabtu, 24 Januari 2026, 10:38 WIB Last Updated 2026-01-24T03:41:09Z

    Liputanbhagasasi.com - Bekasi, 24 Januari 2026 - Jam kerja fleksibel sering dianggap sebagai keuntungan utama menjadi freelancer. Tidak terikat jam kantor membuat pekerjaan terlihat lebih santai dan bebas diatur sesuai kebutuhan. Namun, di balik fleksibilitas tersebut, banyak pekerja lepas justru mengalami kelelahan fisik dan mental.

    Tanpa batas kerja yang jelas, waktu istirahat kerap tersisih oleh tuntutan proyek dan target pribadi. Beban ini perlahan menumpuk dan berujung pada burnout yang sering tidak disadari sejak awal.

    Berikut beberapa faktor yang membuat freelancer rentan mengalami burnout meski memiliki jam kerja fleksibel.


    1. Batas Kerja dan Waktu Pribadi yang Kabur

    Fleksibilitas kerja sering menjadi awal munculnya masalah. Tanpa jam kerja yang pasti, pekerjaan mudah menyusup ke waktu istirahat, bahkan hingga larut malam. Akibatnya, tubuh dan pikiran jarang mendapat waktu pemulihan yang cukup.

    Notifikasi yang terus masuk membuat waktu pribadi kehilangan maknanya. Hari libur pun terasa setengah hati karena selalu ada pekerjaan yang “tinggal sedikit lagi”. Dalam jangka panjang, kondisi ini memicu kelelahan mental.


    2. Tekanan untuk Selalu Tersedia bagi Klien

    Banyak freelancer merasa harus selalu cepat merespons demi menjaga kepercayaan klien. Ketakutan kehilangan proyek membuat batas profesional sering diabaikan.

    Pesan di luar jam kerja dianggap wajar, meski sebenarnya mengganggu waktu istirahat. Tekanan ini membuat pikiran sulit lepas dari pekerjaan dan dapat memicu kecemasan serta stres berlebih.


    3. Ketidakpastian Penghasilan

    Tidak adanya gaji tetap membuat penghasilan terasa tidak menentu. Ada masa proyek datang bertubi-tubi, tetapi ada pula periode sepi yang panjang.

    Ketidakpastian ini memicu kekhawatiran terhadap kebutuhan hidup. Tekanan finansial pun berdampak pada kondisi psikologis dan dapat mengganggu fokus serta produktivitas kerja.


    4. Beban Multiperan dalam Satu Waktu

    Freelancer tidak hanya bertugas sebagai pelaksana, tetapi juga admin, pemasar, hingga pengelola keuangan. Semua peran dijalani sendiri tanpa pembagian tugas yang jelas.

    Berpindah peran dalam waktu singkat menguras energi dan konsentrasi. Kesalahan kecil mudah terjadi, sementara beban mental semakin berat.


    5. Minim Dukungan Sosial

    Bekerja secara mandiri membuat interaksi sosial menjadi terbatas. Tidak ada rekan kantor untuk berbagi cerita atau sekadar melepas penat.

    Kurangnya dukungan emosional membuat freelancer harus menghadapi masalah sendirian. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menimbulkan rasa terisolasi yang berdampak pada kesehatan mental.


    Fleksibilitas waktu yang sering dibanggakan dalam dunia freelance tidak selalu sejalan dengan kesehatan mental. Tanpa batas kerja yang jelas, dukungan sosial, dan manajemen diri yang baik, freelancer sangat rentan mengalami burnout.


    Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar pekerja lepas dapat bertahan tanpa kehilangan kualitas hidupnya.(Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini