Liputanbhagasasi.com - Bekasi, Kantor Berita LBN - Memasuki puncak musim kemarau 2026, sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bekasi mencatat meningkatnya masyarakat yang datang dengan keluhan batuk, pilek, sakit tenggorokan, hingga demam ringan. Kondisi cuaca yang panas pada siang hari, udara yang lebih kering, serta meningkatnya debu diduga menjadi salah satu faktor yang memicu gangguan saluran pernapasan.
Seorang dokter di Bekasi saat dikonfirmasi awak media Liputan Bhagasasi News (LBN), Selasa (04/08/2026), mengatakan bahwa dalam beberapa pekan terakhir kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ringan, terutama batuk dan pilek, memang cenderung mengalami peningkatan.
"Selama musim kemarau, kami melihat lebih banyak pasien datang dengan keluhan batuk, pilek, tenggorokan kering, dan flu ringan. Kondisi ini dipengaruhi oleh udara yang lebih kering, paparan debu, perubahan suhu antara siang dan malam, serta daya tahan tubuh yang menurun," ujarnya.
Menurutnya, meskipun sebagian besar kasus bersifat ringan dan dapat sembuh dengan istirahat yang cukup, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis yang lebih rentan mengalami komplikasi.
Dokter tersebut menjelaskan bahwa musim kemarau sering kali menyebabkan kualitas udara menurun akibat meningkatnya partikel debu yang beterbangan. Paparan debu tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan sehingga memicu batuk, bersin, pilek, maupun memperburuk kondisi penderita asma dan alergi.
Selain itu, perubahan cuaca yang cukup ekstrem antara siang yang panas dan malam yang lebih dingin juga dapat memengaruhi kondisi tubuh apabila tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
"Masyarakat sebaiknya memperbanyak minum air putih agar tubuh tetap terhidrasi, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat yang cukup, serta rutin berolahraga untuk menjaga daya tahan tubuh. Saat berada di luar ruangan, terutama di kawasan yang berdebu, penggunaan masker juga dapat membantu mengurangi paparan partikel debu," tambahnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala batuk dan pilek yang berlangsung lama. Apabila keluhan disertai demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, atau tidak kunjung membaik setelah beberapa hari, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
Di sisi lain, masyarakat diimbau tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan menjaga kebersihan lingkungan, mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun, menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin, serta menghindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit guna mengurangi risiko penularan infeksi saluran pernapasan.
Pemerintah bersama tenaga kesehatan juga diharapkan terus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan selama musim kemarau. Langkah-langkah pencegahan sederhana dinilai efektif untuk menekan penyebaran penyakit, khususnya batuk dan pilek yang umumnya meningkat pada kondisi cuaca kering.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan upaya pencegahan, diharapkan dampak musim kemarau terhadap kesehatan dapat diminimalkan sehingga aktivitas sehari-hari tetap berjalan dengan baik. (Aspira)





.jpeg)



