Liputanbhagasasi.com - Kabupaten Bekasi, Kantor Berita LBN - Terpilihnya H. Ridho Choirul Umam sebagai Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Bekasi periode 2026–2031 satu bulan lalu menjadi sorotan publik. Di tengah dinamika politik Kabupaten Bekasi yang kompleks dan didominasi kaum urban dengan berbagai persoalan sosial di akar rumput, kehadiran figur muda seperti Ridho dinilai membawa harapan baru bagi wajah politik daerah.
Masyarakat Kabupaten Bekasi dinilai mulai jenuh dengan pola politik lama yang cenderung kaku, elitis, dan berjarak dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran Ridho dengan pendekatan yang lebih inklusif, terbuka terhadap dialog, serta mendorong musyawarah dan kolaborasi hingga ke tingkat ranting menjadi warna baru dalam perpolitikan lokal.
Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan perkembangan zaman, di mana politik tidak lagi dapat dijalankan melalui instruksi satu arah dari elit partai semata, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dan kader di berbagai tingkatan.
Namun, tantangan sesungguhnya justru baru dimulai. Mengomandoi partai yang identik dengan generasi muda di tengah konstelasi politik Kabupaten Bekasi yang dihuni para pemain lama dan sarat pengalaman tentu bukan perkara mudah.
Target ambisius PSI Kabupaten Bekasi untuk menghadapi Pemilihan Umum (Pemilu) 2029 dan mengamankan kursi legislatif di seluruh tingkatan membutuhkan lebih dari sekadar retorika politik maupun popularitas di media sosial. Dibutuhkan kerja-kerja politik yang konkret, konsolidasi organisasi yang kuat, serta kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Pengamat menilai, apabila H. Ridho mampu menerjemahkan semangat solidaritas dan inklusivitas yang diusungnya ke dalam program-program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat, mulai dari persoalan lapangan kerja, pendidikan, hingga pembangunan infrastruktur lokal, bukan tidak mungkin PSI akan berkembang menjadi salah satu kekuatan politik baru yang diperhitungkan di Kabupaten Bekasi.
Keberhasilan kepemimpinannya ke depan akan menjadi pembuktian apakah figur muda tersebut mampu menghadirkan perubahan organik yang dirasakan langsung oleh masyarakat atau hanya menjadi pergantian estafet kepemimpinan biasa.
Di balik sosok H. Ridho Choirul Umam sebagai nahkoda baru DPD PSI Kabupaten Bekasi, terdapat figur yang tak kalah penting dalam menjalankan roda organisasi, yakni Muhammad Rizki Muhsin yang resmi menjabat sebagai Sekretaris DPD PSI Kabupaten Bekasi periode 2026–2031.
Dalam sebuah organisasi politik, posisi sekretaris bukan sekadar pelengkap struktur. Di wilayah sebesar dan sedinamis Kabupaten Bekasi, sekretaris memegang peran vital sebagai motor penggerak organisasi.
Jika ketua berperan sebagai wajah dan penentu arah gerakan partai, maka sekretaris merupakan figur yang bertanggung jawab menerjemahkan visi dan gagasan tersebut menjadi program kerja yang terukur dan dapat dijalankan secara efektif.
Tidak sedikit partai politik di tingkat daerah mengalami stagnasi bukan karena minimnya visi kepemimpinan, melainkan akibat lemahnya tata kelola organisasi, administrasi yang tidak tertata, serta buruknya konsolidasi internal.
Tantangan besar yang kini dihadapi Muhammad Rizki Muhsin adalah bagaimana merapikan struktur organisasi hingga ke tingkat ranting di seluruh pelosok Kabupaten Bekasi. Ia dituntut mampu membangun sistem organisasi yang rapi, modern, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan politik masa kini.
Menghadapi Pemilu 2029 yang membutuhkan persiapan jangka panjang, pembangunan infrastruktur partai mulai dari tingkat kecamatan hingga desa menjadi faktor penentu keberhasilan. Tanpa fondasi administrasi yang solid serta komunikasi organisasi yang berjalan efektif, target meraih kursi legislatif di berbagai tingkatan dikhawatirkan hanya akan menjadi wacana di atas kertas.
Duet kepemimpinan antara H. Ridho Choirul Umam yang dikenal dengan pendekatan inklusif dan Muhammad Rizki Muhsin yang memiliki karakter taktis serta manajerial dinilai membawa angin segar bagi iklim politik Kabupaten Bekasi.
Kombinasi keduanya menawarkan harapan lahirnya model kepemimpinan kolektif yang lebih profesional, adaptif, dan dekat dengan masyarakat. Di tengah tuntutan publik terhadap perubahan dan regenerasi politik, kehadiran figur-figur muda di tubuh PSI Kabupaten Bekasi menjadi momentum penting untuk menghadirkan pola politik yang lebih modern dan substantif.
Meski demikian, publik Kabupaten Bekasi tentu akan terus mengamati dan menguji sejauh mana duet kepemimpinan ini mampu membuktikan diri melalui kerja nyata. Pertanyaan besarnya adalah apakah manajemen organisasi yang dibangun di bawah kendali Muhammad Rizki Muhsin dapat mengimbangi gerak cepat dan visi besar H. Ridho Choirul Umam, serta apakah mesin partai yang mereka pimpin benar-benar mampu hadir dan bekerja untuk masyarakat akar rumput, bukan sekadar aktif dalam ruang-ruang digital dan media sosial. (Bachtiar/Red)


.png)


.jpeg)



