Di sekitar akses pintu masuk hingga lantai dua stasiun, ratusan karangan bunga tampak berjajar rapi. Aroma bunga yang menyengat masih terasa kuat, menjadi saksi bisu duka mendalam atas insiden yang merenggut 16 korban jiwa, yang seluruhnya merupakan perempuan.
Meski aktivitas perjalanan kereta api telah kembali normal, jejak kesedihan belum sepenuhnya hilang. Karangan bunga dan pesan dukacita yang tertulis di berbagai sudut stasiun menjadi pengingat akan tragedi tersebut. Sejumlah penumpang KRL bahkan turut menuliskan doa dan pesan haru, baik secara langsung maupun melalui lembaran kertas yang ditempel di area memorial sementara.
Salah seorang pengguna KRL asal Bogor, Rizki (23), mengaku sengaja datang ke Stasiun Bekasi Timur untuk menyampaikan belasungkawa. Ia tampak khusyuk berdoa di antara deretan bunga yang menghiasi lokasi.
“Saya berdoa, mudah-mudahan yang telah berpulang diberikan tempat terbaik, diterima amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi keikhlasan,” ujarnya saat ditemui awak media Liputanbhagasasi.com, Selasa (5/5/2026).
Meski tidak mengenal para korban secara pribadi, Rizki mengaku tetap merasakan kehilangan yang mendalam. Ia menyebut para korban sebagai sosok perempuan tangguh yang tengah berjuang demi masa depan.
“Menurut saya, mereka adalah pejuang-pejuang hebat. Perempuan yang sedang mengejar cita-cita dan harapan, demi keluarga dan orang-orang tercinta,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Neli Agustin (23), warga Jakarta, yang turut hadir untuk memberikan penghormatan. Ia berharap keluarga korban diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah ini.
“Turut berduka cita untuk para korban dan keluarganya. Semoga diberikan kesabaran, ketabahan, serta keikhlasan,” ucap Neli singkat.
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (KAI) juga telah menggelar doa bersama dan tahlilan di lokasi kejadian pada Senin (4/5/2026). Kegiatan tersebut dihadiri jajaran direksi KAI, petugas, serta masyarakat umum sebagai bentuk penghormatan kepada para korban.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, memimpin langsung prosesi tabur bunga di lantai dua stasiun. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan duka cita mendalam atas musibah yang terjadi, sekaligus memastikan komitmen perusahaan untuk terus meningkatkan aspek keselamatan transportasi kereta api.
Peristiwa tragis ini tidak hanya meninggalkan luka bagi keluarga korban, tetapi juga menyentuh hati masyarakat luas. Stasiun Bekasi Timur kini tidak sekadar menjadi tempat transit, tetapi juga ruang refleksi atas pentingnya keselamatan serta nilai kemanusiaan di tengah mobilitas yang tinggi.
Duka mungkin perlahan akan mereda, namun kenangan dan doa untuk para korban akan terus hidup di hati masyarakat. (Bachtiar/Red)


.png)






