Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Jawa Barat, Purwanto, mengatakan bahwa pengembangan dan pengujian aplikasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Disdik Jabar untuk menghadirkan layanan pendidikan yang mudah diakses, mudah dipahami, serta tepat sasaran bagi masyarakat.
“Ini adalah upaya kita untuk menghadirkan layanan pendidikan yang mudah, tertata, dan tepat sasaran bagi calon murid di Jawa Barat,” ujar Purwanto.
Ia menjelaskan, uji coba tahap pertama dilakukan secara terbatas dengan melibatkan perwakilan dari seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat. Setiap sekolah mengirimkan satu hingga dua peserta sebagai perwakilan, baik dari jenjang SMP maupun MTs, untuk mencoba langsung penggunaan aplikasi.
“Hari ini akan dilaksanakan uji coba untuk seluruh kabupaten/kota dengan skala terbatas. Peserta uji coba dari setiap kabupaten/kota hanya terdiri dari 1–2 orang per sekolah, baik dari SMP maupun MTs,” jelasnya.
Menurut Purwanto, uji coba ini bertujuan untuk memastikan bahwa aplikasi SPMB dapat digunakan secara sederhana oleh masyarakat maupun satuan pendidikan ketika proses penerimaan murid baru resmi dimulai. Kemudahan penggunaan menjadi salah satu indikator utama keberhasilan sistem digital tersebut.
“Sebuah aplikasi yang baik harus mudah dipahami, mudah digunakan, dan sesuai dengan kebutuhan kita. Kalau ternyata masih sulit digunakan, berarti ada hal-hal yang harus diperbaiki,” ungkapnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan seluruh lulusan SMP dan MTs dapat terdata melalui sistem tersebut. Berdasarkan data Disdik Jabar, terdapat sekitar 826 ribu lulusan SMP dan MTs di Jawa Barat yang akan mengikuti proses pemetaan pendidikan menengah pada tahun ini.
Purwanto menegaskan, seluruh siswa diwajibkan mengisi data melalui aplikasi agar pemerintah dapat memperoleh gambaran yang akurat mengenai pilihan pendidikan lanjutan setiap peserta didik.
“Seluruh siswa SMP dan MTs di Provinsi Jawa Barat harus mengisi aplikasi ini agar semuanya terekam, terdata, dan dapat dipetakan dengan baik,” katanya.
Melalui aplikasi SPMB tersebut, data siswa akan digunakan untuk memetakan kelanjutan pendidikan mereka, baik ke SMA, SMK, Madrasah Aliyah (MA), maupun jenjang pendidikan lainnya. Sistem ini diharapkan mampu membantu pemerintah dalam menyusun distribusi peserta didik yang lebih merata sekaligus memastikan tidak ada siswa yang terlewat dari layanan pendidikan.
Kadisdik menambahkan, hasil dari uji coba tahap pertama akan menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan aplikasi sebelum digunakan secara luas dalam pelaksanaan SPMB 2026. Karena itu, ia meminta seluruh peserta simulasi untuk aktif memberikan masukan, terutama terkait kendala teknis yang mungkin ditemukan selama proses berlangsung.
“Ketelitian, keseriusan, serta partisipasi aktif sangat kami harapkan. Semua ini demi kebaikan anak-anak kita dan kemajuan pendidikan di Provinsi Jawa Barat,” tuturnya.
Sebagai bagian dari tahapan implementasi, peluncuran resmi sosialisasi SPMB 2026 dan SPMB Sekolah Maung dijadwalkan berlangsung pada 18 Mei 2026. Disdik Jabar berharap seluruh proses persiapan dapat berjalan lancar sehingga pelaksanaan penerimaan murid baru tahun ini dapat berlangsung lebih baik, transparan, dan memberikan akses pendidikan yang adil bagi seluruh siswa di Jawa Barat. (Red)





.jpeg)



