• Jelajahi

    Copyright © Liputanbhagasasi
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

     










    Disdik Jabar Pilih Pendekatan Pembinaan untuk Siswa Pelaku Perundungan, Libatkan Orang Tua dan Psikolog

    Liputanbhagasasi
    Senin, 20 April 2026, 11:30 WIB Last Updated 2026-04-20T13:17:52Z
    Ket.foto : Kadisdik Jabar saat Apel Pagi Senin 20/04/2026 (Doc.disdikjabar)

    Liputanbhagasasi.com - Jawa Barat, Kantor Berita LBN - Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jawa Barat mengambil langkah pembinaan sebagai bentuk sanksi bagi siswa yang terlibat dalam kasus perundungan di lingkungan sekolah. Pendekatan ini ditegaskan tetap mengedepankan prinsip pendidikan, bukan sekadar hukuman semata.

    Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menyampaikan bahwa para siswa yang terlibat tidak akan dikeluarkan dari sistem pendidikan, melainkan tetap dibina dalam ekosistem sekolah. Hal tersebut disampaikannya usai menjadi pembina upacara di SMAN 1 Purwakarta, Senin (20/4/2026).


    “Sanksinya bukan sekadar hukuman, tetapi pembinaan. Mereka tetap berada dalam ekosistem pendidikan,” ujar Purwanto.


    Ia menjelaskan, para siswa akan menjalani masa pembinaan selama tiga bulan melalui berbagai kegiatan sosial, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat. Program ini dirancang untuk menumbuhkan empati, tanggung jawab, serta kesadaran sosial para siswa.


    Selama proses pembinaan berlangsung, para siswa tetap mengikuti kegiatan belajar mengajar seperti biasa. Namun, mereka juga akan mendapatkan pendampingan intensif dari guru serta tenaga profesional, termasuk psikolog, guna memastikan perubahan perilaku berjalan optimal.


    Tak hanya itu, Disdik Jabar juga memperkuat peran orang tua dalam proses pembinaan. Setiap pekan, orang tua siswa diwajibkan hadir ke sekolah untuk bersama-sama mengevaluasi perkembangan anak. Langkah ini dinilai penting agar pembinaan tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga berlanjut di lingkungan keluarga.


    Menurut Purwanto, kasus perundungan tidak bisa dilihat sebagai kesalahan satu pihak saja. Ia menekankan bahwa pembentukan karakter anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari keluarga, sekolah, lingkungan sosial, hingga paparan media digital.


    “Ini harus menjadi refleksi bersama. Anak-anak hari ini tidak hanya dididik oleh guru, tetapi juga oleh media sosial, lingkungan, dan masyarakat,” tegasnya.


    Sebagai upaya pencegahan ke depan, Disdik Jabar mendorong sekolah untuk memperketat pengawasan penggunaan gawai di lingkungan pendidikan. Siswa diimbau tidak menggunakan telepon genggam saat kegiatan pembelajaran berlangsung, kecuali untuk kepentingan akademik.


    Sementara itu, guru SMAN 1 Purwakarta yang diduga menjadi korban perundungan, Ibu Atun Syamsiah, menunjukkan sikap bijak dengan memilih memaafkan para siswa. Ia menegaskan bahwa tugas seorang pendidik adalah membimbing, bukan menghakimi.


    “Saya memaafkan. Tugas kami sebagai pendidik adalah membimbing agar mereka menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.


    Ia juga meyakini bahwa kesalahan yang dilakukan siswa merupakan bagian dari proses pembelajaran dalam kehidupan. Menurutnya, perilaku negatif yang dilakukan anak tidak serta-merta menentukan masa depan mereka.


    “Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Tugas kami adalah membina,” tutupnya.


    Langkah pembinaan yang diambil Disdik Jabar ini diharapkan dapat menjadi pendekatan yang lebih humanis dan efektif dalam menangani kasus perundungan, sekaligus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan sekolah. (Red)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini