Ziarah makam yang dikenal sebagai ziarah “makam girang” atau makam Gunung Putri ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kranggan. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap satu pekan setelah Hari Raya Idulfitri atau tepat tujuh hari usai Lebaran.
Sebagai putra asli Kampung Kranggan, Camat Jatisampurna Nata Wirya mengaku telah memahami betul pelaksanaan tradisi ziarah tersebut yang sudah berlangsung secara turun-temurun. Tradisi ini dikenal dengan sebutan ziarah makam girang atau makam Gunung Putri, yang rutin dilaksanakan setiap satu pekan setelah Hari Raya Idulfitri atau tujuh hari usai Lebaran.
“Ziarah ini merupakan tradisi leluhur yang terus dijaga oleh masyarakat Kranggan. Selain untuk mendoakan para pendahulu, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi warga,” ujar Nata Wirya.
Prosesi ziarah dipimpin oleh sesepuh adat Kampung Kranggan, Abah Olot Kisan, dan diikuti oleh para pemangku adat serta masyarakat setempat. Dalam pelaksanaannya, warga membawa sesaji berupa hasil bumi.
Sesaji tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah di wilayah Kranggan yang dikenal subur. Selain itu, doa-doa juga dipanjatkan agar seluruh warga diberikan keselamatan serta dijauhkan dari berbagai marabahaya dan bencana.
Kehadiran unsur pemerintah kecamatan dalam kegiatan ini menunjukkan dukungan terhadap pelestarian tradisi dan budaya lokal. Tradisi ziarah makam leluhur ini diharapkan dapat terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari kearifan lokal yang sarat nilai spiritual dan kebersamaan. (Red)



.png)






