“Rebooking ke penerbangan pertama yang tersedia sangat bergantung pada seberapa cepat Anda menghubungi maskapai, baik melalui telepon, aplikasi, maupun langsung di bandara,” ujar Katy Nastro dari platform pelacak promo maskapai, Going.
Biasanya, opsi penerbangan pengganti akan langsung muncul di aplikasi resmi maskapai. Karena itu, penumpang disarankan untuk segera memeriksa aplikasi sambil tetap mengantre di loket layanan pelanggan jika sudah berada di bandara.
Jika opsi yang ditawarkan belum sesuai, jangan ragu untuk menghubungi call center maskapai sambil menunggu antrean. Menurut Nastro, petugas melalui telepon kerap memiliki akses ketersediaan kursi secara real time. Bahkan, maskapai besar terkadang memiliki perjanjian antarmaskapai yang memungkinkan penumpang dialihkan ke penerbangan maskapai lain.
Meski begitu, penumpang tetap perlu bersikap realistis. “Saat terjadi gangguan besar, jumlah kursi tentu terbatas,” kata BI.
Apabila tidak ada penerbangan pengganti yang sesuai, penumpang berhak meminta pengembalian dana penuh. Setelah itu, penumpang dapat mempertimbangkan membeli tiket dari maskapai lain, meskipun harga tiket di hari yang sama biasanya lebih mahal.
Cara Mengurangi Risiko Penerbangan Dibatalkan
Memilih jadwal keberangkatan yang tepat juga dapat mengurangi risiko keterlambatan maupun pembatalan. Data terbaru Departemen Transportasi Amerika Serikat menunjukkan bahwa pada Juni 2025, sekitar 85 persen penerbangan yang berangkat pukul 06.00–06.59 tiba tepat waktu. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding penerbangan sore hari pukul 18.00–18.59 yang hanya mencatat tingkat ketepatan waktu sebesar 54 persen.
“Penerbangan pagi memang terasa berat, tetapi Anda akan berterima kasih pada diri sendiri karena bisa sampai di tujuan,” ujar salahsatu penumpang.
Selain itu, penumpang juga disarankan untuk bersikap lebih proaktif dengan memantau berbagai faktor eksternal. Brian Kelly, pendiri situs perjalanan The Points Guy dan penulis buku How to Win at Travel, menyarankan agar penumpang tidak hanya menunggu informasi dari maskapai.
“Saya selalu mengecek prakiraan cuaca, bukan hanya di kota keberangkatan dan tujuan, tetapi juga di lokasi asal pesawat,” jelas Wulan.
Sebagai contoh, jika penerbangan berangkat dari Miami, namun pesawat sebelumnya berasal dari Buffalo yang sedang dilanda badai salju, potensi gangguan penerbangan menjadi lebih besar.
Untuk membantu pemantauan, penumpang dapat memanfaatkan aplikasi gratis seperti Flightradar24 guna melihat pergerakan pesawat secara real time. Dengan persiapan yang matang dan sikap proaktif, dampak pembatalan penerbangan dapat ditekan, sehingga perjalanan tetap bisa diselamatkan. (Bachtiar/Red)