Dalam pertemuan tersebut, Irene Umar menekankan bahwa kekuatan utama Indonesia terletak pada talenta kreatif serta keberagaman budaya yang menjadi modal besar untuk bersaing di industri global.
“Indonesia memiliki kekuatan besar pada talenta kreatif dan keberagaman budaya. Kami sangat terbuka untuk kolaborasi lintas negara, terutama yang menggabungkan seni, teknologi, dan pengalaman imersif. Ini sejalan dengan upaya kami menjadikan ekonomi kreatif sebagai the new engine of growth,” ujar Irene Umar.
Ia juga mendorong delegasi Prancis untuk mengenal lebih dalam ekosistem ekonomi kreatif Indonesia melalui interaksi langsung dengan para pelaku industri di berbagai kota kreatif seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Upaya ini diharapkan mampu membuka ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat jejaring antar pelaku industri kedua negara.
Lebih lanjut, Irene menegaskan bahwa kolaborasi yang dibangun tidak hanya berhenti pada tahap diskusi, tetapi harus diwujudkan dalam bentuk kerja sama konkret.
“Kami ingin kolaborasi ini tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut menjadi kerja sama nyata, baik dalam bentuk co-production, residensi kreatif, maupun pengembangan intellectual property bersama,” tambahnya.
Program ICC Immersion yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie (IFI) bersama Business France turut menjadi bagian penting dalam pertemuan tersebut. Program ini melibatkan 12 perusahaan Prancis dari berbagai subsektor, mulai dari arsitektur dan museografi, pengalaman imersif dan gim, hingga musik, warisan budaya, dan live events.
Direktur IFI, Jules Irrmann, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis dalam pengembangan industri kreatif di kawasan Asia Tenggara. Ia menilai ekosistem kreatif Indonesia sangat dinamis dengan dukungan talenta muda yang kuat.
“Kami melihat Indonesia sebagai ekosistem kreatif yang sangat dinamis dengan talenta muda yang kuat. Program ini mempertemukan pelaku industri Prancis dengan mitra di Indonesia untuk mendorong lahirnya proyek bersama yang inovatif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, delegasi Prancis juga memaparkan berbagai pendekatan dan pengalaman mereka di bidang seni imersif, teknologi kreatif, produksi musik, serta pengelolaan museum dan warisan budaya. Paparan ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan proyek-proyek kreatif di Indonesia.
Audiensi ini merupakan bagian dari implementasi kerja sama bilateral Indonesia–Prancis di bidang ekonomi kreatif, menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada tahun 2025. Kesepakatan tersebut mencakup berbagai subsektor, antara lain film, animasi, kriya, kuliner, fesyen, gim, dan desain.
Melalui pertemuan ini, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong percepatan realisasi kerja sama dalam bentuk proyek bersama, pertukaran talenta, serta pengembangan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri kreatif global. Kolaborasi ini diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi kreatif dunia. (Red)


.png)






